Kisah Bisma dan Wanita Malam
Emperan toko di jalanan mulai sepi. Namun salah
satu tempat, semacam asrama remang-remang sangat ramai. Banyak wanita
& pria disitu. Tempat pelacuran, hmm yah. Bisma menghentikan
mobilnya tepat di depan tempat itu. Terpesonalah ia melihat gadis
memakai tank top pink ketat, dan rok jenas sepaha, rambut panjangnya
terurai dengan polesan make-up yang tebal ia berdiri di depan pintu, sepertinya
menunggu pelanggan. Bisma keluar dari mobil dan mengangkat ranselnya.
Ia masuk ke dalam asrama itu dan memesan seorang wanita, tentu saja
wanita yang tadi.
“Boleh saya memesan wanita untuk semalam?” tanya Bisma
“Ya tentu, mana yang anda suka?” jawab si ‘germo’ dengan senang hati
“Yang itu,” Bisma menunjuk gadis itu dengan leluasa
“Oh Fifi. Fi! Sini lo!” panggil si germo itu dengan kasar. Gadis manis bernama Fifi itu mendekati Bisma dengan wajah malu-malu
“Anda
berani berapa? Fifi adalah tarif termahal disini.” Kata sang germo
sambil menghitung uangnya. Bisma merogoh sakunya dalam-dalam,
“5 juta.” Ucap Bisma santai. Mata sang germo terbelalak,
“Oh, baiklah! Fi! Lo layanin dengan baik ya!” kata sang germo tersenyum puas. Fifi mengangguk kecil,
“Kamar
kosong ada di nomor 4.” Tambah germo berkumis tebal itu. Dengan
leluasa, Fifi menggandeng tangan Bisma menuju kamar nomor 4.
Sampai di dalam kamar, tak ada percakapan
yang terjadi. Fifi berbaring di kasur sementara Bisma duduk di sofa
sambil asyik dengan laptopnya. Fifi mulai jenuh, dan berkata,
“Lalu kau menyewaku malam ini, untuk apa?,”
Bisma mengehela nafas,
“untuk menemaniku.”
“Menemani tidur kan?” tanya Fifi jengkel
“Tidak. Untuk menemaniku bekerja.” Bantah Bisma
“Maksudmu
apa? Aku adalah wanita murahan yang bertugas melayani pria setiap
malamnya, bukan untuk menemanimu bekerja!” ujar Fifi ketus
“Tapi aku membayarmu kan?,” kata Bisma memandangi Fifi
“Ohh, baiklah kalau mamumu begitu.” Fifi masih terbaring di kasur, kini ia mengeluarkan BBnya.
“tapi apakah semalaman kita akan seperti ini?” tanya Fifi
“Aku kerja. Dan jika kau ingin tidur, tidurlah.” Jawab Bisma enteng
“Lantas, apakah kau tidak suka denganku? Kau memperlakukanku, aneh.” Kata Fifi jengkel
“Aku
tidak pernah bilang kan, kalau aku tidak menyukaimu?, sudahlah. Diam,
aku tak bisa fokus! Lebih baik makanlah cemilan. Aku membawanya di
tasku, jika mau, ambillah.” Tawar Bisma
“Semoga ini malam terakhir kau memesanku!” gumam Fifi lalu menutupi dirinya dengan selimut lalu tidur.
Pagi
menjelang. Matahari dari ufuk timur sudah berpendar sejak tadi. Bisma
yang semalaman bekerja, ia kelelahan dan mendapati dirinya tertidur di
sofa. Fifi sudah bangun sejak tadi, ia sedang menyisiri rambut. Bisma
merapihkan tas laptopnya dan mencuci mukanya,
“Aku
pulang. Aku harus bekerja.” Bisma melemnparkan segepok uang seratus
ribuan berjumlah 5 juta, ke atas kasur seperti perjanjian. Fifi terdiam,
lalu memungut uang itu.
Malam selanjutnya, masih sama. Bisma
kembali mendatangi asrama itu untuk menemui Fifi. Seorang pria datang
bersamaan dengan Bisma, mereka sama sama ingin menyewa Fifi malam ini.
“Aku maunya cewe itu!” kata si pria ini, mungkin sudah berkepala empat.
“Tapi saya juga mau sama dia.” Bantah Bisma tak mau kalah
“Tapi aku berani bayar 10 juta!” tantang pria tua itu
“15
juta, deh.” Bisma lagi lagi tak mau kalah. Perdebatan terjadi dalam
merebutkan Fifi. Sang germo yang bingung pun memutuskan memanggil Fifi,
dan Fifi akan menentukan siapa yang akan ditemaninya malam ini. Fifi
sempat ragu. Berpikir agak lama, alhasil pilihan jatuh pada Bisma. Untuk
malam ini, Bisma menyewa Fifi lagi.
Seperti malam lalu, tak ada aktifitas berarti di dalam kamar. Fifi asik dengan BBnya, dan Bisma dengan laptopnya.
“Bagaimana
penampilanku malam ini?” tanya Fifi. Kali ini dia juah lebih seksei
dari yang kemarin. Tank top bertali warna abu-abu yang memamerkan
pusarnya, rok kain sepaha, make up natural yang tidak tebal.. Dan rambut
coklatnya yang ikal di ikat dua. Manis sekali.
“Kau seharusnya tak memamerkan belahan tubuhmu.” Komentar Bisma
Fifi menghela nafas,
“Jika aku tak berpenampilan seperti ini, tak akan ada pria yang mau menyewaku.”
“Lucu. Sekali.” Ledek Bisma
“Aku seperti ini, agar kau tertarik padaku!” akui Fifi
“Aku akan tertarik padamu, jika kau berubah.” Jawab Bisma
“Berubah yang seperti apa? Ini aku apa adanya!” seru Fifi kecewa
“Bukan. Ini bukan kau. Gadis sepertimu harusnya kuliah, bukannya melacur.” Sindir Bisma
“kau tak tahu kehidupanku!!” cetus Fifi menahan air mata
“Maka
dari itu, aku ingin tahu,” kata Bisma menatapi Fifi. Fifi tak kuasa
menahan air matanya, ia berbaring dan menutupi wajahnya dengan guling.
“Entah..lah.”
Fifi pura pura tertidur. Sementara itu, Bisma wudhu.. Ia akan shalat
tahajjud. Fifi yang memperhatikan Bisma shalat sedari tadi, tibatiba ia
merasa resah dan gundah. Tak kuasa menahan air matanya, ia berucap..
“Aku..Aku gak bisa sholat.” Ujar Fifi ragu, gugup, juga malu.
Bisma menghela nafas panjang,
“Kalau Niat, aku mau ngajarin kamu kok,” tawar Bisma
“Apa pantas? Wanita hina, kotor, murahan sepertiku menyembah Allah? Aku malu pada diriku sendiri.” Sesal Fifi menangis pelan
“Allah mengampuni setiap hambanya yang ingin bertaubat. Yakinlah,” ujar Bisma meyakinkan. Fifi tersenyum dan berkata,
“Baiklah.
Ajari aku sholat..” dan Bisma dengan senang hati mengajarkan bacaan
bacaan shalat pada Fifi. Awalnya sulit, susah dimengerti oleh Fifi.
Namun akhirnya, Fifi mulai menguasai tiap bacaan shalat. Dari Niat, do’a
iftitah, kemudian surat Al-Fatihah.. ia mulai bisa. Bisma juga
mengajarkan Fifi tentang berwudhu, dan mengajarkan surat surat pendek
kepada Fifi. Sungguh malam ini bermakna bagi Fifi.
Malam, malam, malam selanjutnya. Bisma
selalu memesan Fifi semalam, bukan untuk hal yang lain, namun untuk
mengajarinya shalat. Tak terkecuali, malam ini. Bisma sengaja membawa
Al-Qur’an agar Fifi mau mempelajarinya.
“Sudah beberapa malam kita bersama, namun aku belum tahu namamu. Siapa namamu?” tanya Fifi
“Aku Bisma. Bisma Karisma.” Jawab Bisma
“Oh, lalu kau bekerja dimana?”
“Di perusahaan alm. Ayahku,”
“Dimana ibumu?”
“Aku lahir dari seorang wanita sepertimu.”
“Maksudmu..?”
“Yah.
Setelah aku lahir, aku dibuang. Untungnya diriku, seorang pengusaha
kaya menemukanku di dalam bak sampah. Ia mengangkatku sebagai anak.”
“Sedih juga kisah hidupmu..”
“Lantas kau bagaimana?”
“Ibuku
di desa. Ibuku sakit. Maka aku sebagai anak pertama di keluarga, aku
harus mencari nafkah, dan satu satunya yang ku miliki di Jakarta hanya
ragaku. Maka dengan berat hati.. Aku menyewakan ragaku ke para pria
setiap malamnya.” Jelas Fifi panjang lebar. Ia tak kuasa menahan air
matanya...
“Sudah jangan menangis.” Kata Bisma menghapus air mata Fifi, Fifi tersenyum sedikit.
“Kau menguatkanku, Bis. Semuanya berubah semenjak aku mengenalmu.” Kata Fifi.
“Oh ya? Sudah, mari kita mengaji malam ini.” Ajak Bisma
“Aku tidak Bisa mengaji,” ucap Fifi malu.
“dan
dengan senang hati, aku akan mengajarimu :)” kata Bisma. Terselip
senyum kecil di bibir Fifi. Mereka pun mulai mengaji, dengan teliti dan
hatihati Bisma mengajari Fifi mengaji.
Malam, malam, malam demi malam selanjutnya.
Biarpun lepas 5 juta tiap malamnya, Bisma merasa senang. Bisma merasa
lega jika bersama Fifi, Bisma merasa bahagia dapat membukakan pintu hati
Fifi. Kini setiap malam Fifi bukan pelacur, tapi layak seorang
santriwati yang belajar pada ustadznya. Khusus malam ini, Bisma datang
dengan membawa se koper baju muslim. Tentunya untuk Fifi,
“Fifi,
aku bawa beberapa baju muslim panjang dan jilbab untukmu. Maukah kau
mengenakannya? Maka jangan setiap hari kau mengenakan tank top, aku
risih melihtanya.” Ujar Bisma. Fifi tersenyum,
“Iya aku mau.” Jawab Fifi. Bisma mengeluarkan semua baju muslim khusus yang ia beli, khusus untuk Fifi.
“Ini sepertinya, cocok untukmu.” Kata Bisma menyodorkan baju muslim setel-an warna ungu muda untuk Fifi
“Keren, aku suka.” Fifi mencobanya di kamar mandi. Hebat, Fifi tampak cantik berseri mengenakan baju muslim itu.
“Subhannallah, cantik.” gumam Bisma. Fifi menebar senyumnya sambil menari-nari di depan kaca,
“Tapi
jika aku memakai pakaian seperti ini, apakah Pak Yono (germo) tidak
marah..? Aku kesini dikira buat melacur, tapi malah pakai baju seperti
ini.” Kata Fifi manyun
“Aku.. Aku berharap satu. Aku hanya ingin kau berhenti melacur.” Ucap Bisma ragu
“Mengapa..?” tanya Fifi heran
“Berhentilah. Fi,” kata Bisma memohon
“Lantas dari mana aku mendapatkan uang...? Kau tak selamanya akan membayarku, kan?” tanya Fifi
“Yah, maksudku.. Tolong. Hargai dirimu sendiri, kau wanita yang layak dicintai menurut ketulusan. Bukan nafsu.” Saran Bisma
“Siapa
yang akan mencintaiku? Aku bahkan tidak perawan. Hidupku ya ini, Bis..!
Aku tidak bisa berhenti melacur. Maaf.” Sesal Fifi
“Kalau kau masih ingin melacur, berarti kau menganggap rendah dirimu sendiri.” Ujar Bisma tertunduk
“jadi, maksudmu aku wanita tak punya harga diri..? Wanita yang murahan, wanita gampangan! Ya kan?” ketus Fifi hampir menangis
“Aku tidak bilang begitu!” bantah Bisma
“Sudahlah.
Berhenti menemuiku, berhenti menyewaku tiap malam. Terimakasih untuk
segalanya, segalanya Bisma!” usir Fifi. Fifi mendorong tubuh Bisma
keluar dari kamar. Fifi menutup keras pintu kamarnya, ia menangis
terisak-isak di dalam kamar.
“Huhuhuhu...
Bisma.. Ngertiin aku. Aku adalah pelacur yang mengharap cintamu, pelacur
tak tahu diri yang berani mencintaimu.. Huhuhu.. ya allah.. Maafkan
hamba-Mu yang lancang ini ya Allah..” doa Fifi dalam hati. Tangisnya
deras membasahi belahan pipinya. Di tempat terpisah, Bisma pulang dengan
mobilnya. Perasaannya gusar...
“Setiap
malam aku membayar 5 juta untuk bersamamu. Kini aku menelan rasa sakit
hati karena perkataanku sendiri ? aku menyesal. Karena sebenarnya, aku
mencintaimu apa adanya, Fifi. Aku hanya ingin kau menjadi wanita yang
bermartabat tinggi, jangan melacur! Hiks..” gumam Bisma. Mereka berdua
ternyata saling mencintai. Saling menyimpan rasa sayang..
2 tahun berlalu.. Bisma tak pernah
mengunjungi tempat pelacuran itu lagi. Namun saat ia mengunjungi tempat
itu lagi, ia mendapati rumah pelacuran itu sudah menjadi Panti Asuhan.
Lantas, kemana Fifi? Ia bertanya-tanya dalam hati. Hingga sampai
sekarang pun... Bisma belum memiliki pendamping hidup. Belum bisa ia
melupakan Fifi dalam hidupnya.
Hingga suatu saat, Bisma mengunjungi sebuah
pondok pesantren, mengantar keponakannya. Betapa terkejutnya ia..
Mengetahui sosok Fifi dengan baju panjang, dan berjilbab wira-wiri di
pondok pesantren itu.
“Fifi!” panggil Bisma keras. Fifi yang membawa seember air itu, menengok.
“Bis..Ma?”
gumam Fifi ragu. Fifi mulai ingat kalau itu adalah, memang Bisma. Fifi
yang takut, malu, ragu untuk bertemu Bisma pun berlari menjauhi Bisma.
Bisma si gigih itu mengejar Fifi kemana ia berlari,
“Fi tunggu!”
dan.. “Awh!” Fifi menabrak seseorang hingga ia jatuh tersungkur. Bisma membantu Fifi berdiri, sambil memberikan senyumannya.
dan.. “Awh!” Fifi menabrak seseorang hingga ia jatuh tersungkur. Bisma membantu Fifi berdiri, sambil memberikan senyumannya.
“Fifi.
Apa kabar?” tanya Bisma ramah. Fifi sebenarnya tidak ingin menjawab...
Namun hati kecilnya memaksanya untuk menjawab pertanyaan Bisma
“Baik Bis. Kamu sendiri?” tanya Fifi balik
“Iya sama, baik juga. Apa yang kau lakukan disini...?” tanya Bisma
“Setelah
ibuku meninggal, Aku sekarang bekerja sebagai ustadzah disini.” Jawab
Fifi. Terkejut bukan kepalang. Bisma tak mampu menyembunyikan
senyumannya,
“Alhamdulillah. Fifi, kau berubah. Inilah kau sebenarnya..” ucap Bisma mengusap dahi Fifi
“Iya,
ini juga berkat kau.. Kau yang mengajarkanku tentang agama, sebelum aku
mengerti. Terima kasih. Lantas, apa yang harus kulakukan untuk menebus
rasa terima kasihku?” tanya Fifi.
“Aku pikir, kau memang harus menebusnya.” Kata Bisma nampak berpikir
“Dengan apa..?”
“Hatimu ! :)” goda Bisma. Fifi masih tak mengerti apa yang dibicarakan Bisma,
“MENIKAHLAH DENGANKU FIFI :*”
“DENGAN SENANG HATI..!! HAHA :D”
nisrinaydastories.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar